Pura Lingsar : Pura di Lombok Barat yang Kecil nan Sakral

Pura Lingsar, Ini mungkin satu-satunya tempat suci Hindu di dunia dimana baik Hindu dan Muslim datang untuk melakukan ritual. Kerukunan antar umat beragama nampak di Lombok, umat Islam dan Hindu hidup berdampingan. Bahkan di Pura Lingsar, Umat Hindu dan Islam mengelola dan beribadah disana bersama-sama.

Sulit dipercaya, bahwa didunia ini ada 2 umat yang memiliki latar belakang etnis, kultur dan keyakinan agama, dapat hidup berdampingan di dalam melaksanakan ritusnya masing-masing dan perbedaan bagi mereka adalah sesuatu yang wajar dan logis dan dirasakan sebagai sebuah hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa karena perbedaan akan membuat mereka menjadi saling mengenal dan kemudian menghormati keyakinan satu sama lain.

Disana ada sebuah sanggar kekeramatan yang diusung oleh kedua umat tertentu sesuai persepsi dan versi keyakinan agama masing-masing. Dalam hal tertentu, mereka dapat mengerjakannya bersama-sama dan dilain hal hanya boleh dikerjakan umat yang bersangkutan. Tradisi dan kepercayaan untuk mensyukuri sebuah mata air yang ada di sanggar itu atau dikenal dengan istilah Kemaliq, dipercaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa menjadi sebuah sumber kehidupan, memantik semangat untuk menyusun sebuah kepranataan, rasa tanggung jawab dan pengorbanan tanpa pamrih sebagai ungkapan rasa syukur dalam bentuk sebuah upacara. Dan amatlah lazim bila untuk memantapkan rasa kesungguhan umat, cita-cita berkorban tersebut diusung melalui dukungan susunan mitologi atau legenda.

Sejarah Pura Lingsar

Pura Lingsar

Pura Lingsar by ribut_budhiyanto

Dibangun pada tahun 1714 dan dibangun kembali pada tahun 1878 untuk melambangkan keselarasan dan kesatuan antara Hindu Bali dan Muslim Sasak penduduk daerah, terutama mereka yang mematuhi unik Lombok Wektu Telu sekolah Islam. Candi ini dibangun pada daerah dataran tinggi, di belakang bagian kompleks.
Pada musim peziarah dilakukan pertempuran  tiruan antara Hindu dan Islam, kedua belah pihak melemparkan kue beras satu sama lain. Lokasinya Sekitar 7 kilometer sebelah barat Narmada. sekitar 15 km dari pusat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat itu dibangun pada masa jayanya kerajaan Karangasem Sasak sekitar tahun 1759. Pura ini dibangun oleh Anak Agung Ngurah yang memerintah Lombok bagian barat saat itu.

Di kawasan pura itu terdapat empat bangunan pokok, yaitu Pura Gaduh, Kemaliq, Pesiraman dan pesimpangan Bhatara Bagus Balian, serta Lingsar Wulon. Ketiga bangunan Gaduh, Kemaliq dan Bhatara Bagus Balian hanya dibatasi dengan tembok besar. Saat pujawali berlangsung, upacara dilaksanakan secara serentak. Pujawali adalah upacara pemujaan kelahiran Ida Bhatara yang dilakukan umat Hindu di pura itu.

Simbol toleransi, juga dilambangkan dengan aturan tak tertulis, bahwa siapa saja yang datang ke tempat suci itu, tak diperkenankan menghaturkan sesaji dari babi dan sapi. Babi haram bagi umat Isalam, dan sapi dianggap suci oleh umat Hindu.

Selain ritual-ritual yang unik, Anda juga harus menjelajahi tempat ini. Selain pura Gaduh dan Kemaliq, di Pura Lingsar terdapat kolam yang dibangun untuk menghormati Dewa Whisnu dengan luas 6.230 meter persegi. Kolam bernama Telaga Ageng ini dihuni ikan yang jika tidak dipanggil keluar tidak akan menampakkan diri. Pengunjung harus melemparkan telur ayam rebus agar ikan-ikan itu keluar.

Telaga Ageng mempunyai 9 pancuran yang airnya akan memancar ke dalam kolam. Di dasar kolam Anda akan melihat banyak uang koin yang berserakan. Uang-uang tersebut dilempar oleh pengunjung. Konon katanya setiap pengunjung yang melempar koin ke dalam kolam akan mendapatkan kemudahan rejeki dari Tuhan. Untuk mengunjungi Pura Lingsar, Anda bisa menumpang angkutan umum dari terminal Bertais menuju Narmada dengan ongkos Rp. 3000. Selanjutnya dari Narmada menuju Pura dengan ongkos yang sama.

Pura Lingsar

Pura Lingsar by ade13gallardo

Deskripis Bangunan pada Pura Lingsar

Kompleks Pura dan Kemaliq Lingsar merupakan kompleks taman yang besar dengan bangunan pura di dalamnya. Bangunan Pura sendiri tidak begitu besar tetapi mempunyai beberapa keistimewaan.

Pura ini terdiri atas tiga kompleks, yaitu :

  1. Kompleks Pura Lingsar (Pura Gaduh)
  2. Kompleks Kemaliq
  3. Kompleks Pesiraman

Kompleks Pura Lingsar (Pura Gaduh) terletak di bagian atas sebelah utara menghadap ke barat dan merupakan tempat ibadah umat Hindu. Sedangkan kompleks Kemaliq dan kompleks Pesiraman terletak di bagian bawah di sebelah selatan, juga menghadap ke barat tetapi letaknya sedikit ke utara mengarah kiblat.

Bangunan Pura Lingsar ( Pura Gaduh) dan  Kemaliq dihubungkan dengan dua buah Kori Agung. Di halaman luar ( Bencingah) Pura Lingsar dan Kemaliq terdapat tiga buah bangunan Bale. Dua buah Bale Jajar di halaman barat pura dan sebuah Bale Bundar. Kedua bangunan Bale Jajar  ini merupakan tempat kegiatan kesenian dan beristirahat bagi umat yang bersembahyang, berbentuk segi empat panjang, bertiang enam (Sekenem). Atapnya berbentuk limasan dan terbuat dari seng, lantai dari batu bata dengan ketinggian 0,66 m dari permukaan tanah, panjang 10,71 m dan lebar 5,25 m.

Di samping bangunan-bangunan tersebut diatas, di sebelah selatan Pura/Kemaliq terdapat pancuran Siwak (sembilan buah pancuran), yaitu bangunan yang merupakan tempat mandi kaum laki-laki dengan panjang 21,50 m dan lebar 3,50 m di sebelah barat,  dan tempat mandi kaum perempuan yang letaknya di sebelah barat dengan panjang 18,50 m dan lebar 4,20 m. Kemudian pada pancuran yang berada disebelah barat pemandian kaum wanita ada pancuran yang dinamakan Pancuran Loji, pancurannya sebanyak 2 buah. Pada bagian paling selatan kompleks taman terdapat Kolam Ageng berukuran keliling 6.230 m2. Sedangkan perigi kolam terbuat dari pasangan batu kali yang direkat dengan portland semen (PC).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.